BTN Bidik KPR Baru Rp 2 Triliun Dari Property Expo 2016

wood doors

Jakarta -PT Bank Tabungan Negara (BTN) menggelar Indonesia Property Expo 2016 selama 9 hari sejak 13-21 Februari 2016 di Jakarta Convention Center (JCC). Selama acara berlangsung bank pelat merah ini menargetkan penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Rp 2 triliun.

Target tersebut meningkat hingga beberapa kali lipat dari realisasi pada acara serupa yg digelar tahun 2015 lau yakni mencapai Rp 1 triliun.

“Tahun dulu kalian dapat realisasikan sekitar Rp 1 triliun. Tahun ini target kalian dapat mencapai Rp 2 triliun,” ujar Direktur Utama BTN Maryono di sea acara tersebut, Sabtu (13/2/2016).

Maryono mengaku optimistis bisa mencapai target tersebut mengingat dalam acara Indonesia Property Expo 2016 ini jumlah Pengembang yg terlibat mencapai 250 pengembang yg menawarkan 660 proyek perumahan yg tersebar di Jabodetabek, Banten, Bandung, Sukabumi, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bali, Balikpapan, Samarinda, Kendari dan Medan. Selain itu, acara kali ini juga disemarakkan dengan lebih banyak rumah subsidi yg ditawarkan. Produk rumah subsidi tengah menjadi primadona.

“Para pengembang banyak menawarkan promo menarik. Selama acara BTN pun menawarkan promo bunga murah akan 6,6% untuk yg mengajukan KPR selama acara,” sambung dia.

Bank BTN yaitu bank yg fokus membiayai kredit perumahan. Porsi kredit perumahan masih mendominasi dengan komposisi 89,9% senilai Rp 124,93 triliun dari total kredit yg disalurkan BTN selama tahun 2015 sebesar Rp 138,96 triliun.

Sementara sisanya sebesar 10,1% atau sebesar Rp 14,03 triliun disalurkan buat pembiayaan kredit non perumahan. Dengan strategi yg konsisten dijalankan BTN berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit yg cukup agresif dan melampaui rata-rata industri perbankan nasional.

(dna/ang)

Sumber: http://finance.detik.com
Berita terkini
Baca juga….

Tahun Ini Ada KUR Rp 5,9 Triliun Khusus Petani Kopi

wood doors

Jakarta -Dalam upaya bagi meningkatkan produktivitas lahan kopi yg masih sangat rendah, pemerintah mengalokasikan Rp 5,9 triliun dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) tahun ini buat petani kopi. Kredit dengan bunga tersebut cuma mulai disalurkan bagi intensifikasi lahan kopi petani.

Keputusan tersebut diambil setelah dirinya menggelar meeting tertutup dengan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, Gubernur Jambi Zumi Zola, Gubernur Lampung Ridho Fichardo, dan sejumlah pengusaha serta eksportir biji kopi.

“Untuk meningkatkan produksi kopi nasional, termasuk Lampung. Apalagi Lampung salah sesuatu yg terbesar produsen kopi, agar kopi dari per hektar 1,2 ton dengan bantu petani dari pupuk hingga bibitnya. Itu bagi meningkatkan produktivitas,” kata JK ditemui di Rumah Jabatan Gubernur Lampung, Bandar Lampung, Sabtu (13/2/2016).

Menurut JK, produktifitas lahan petani kopi lokal sangat rendah, bahkan jauh lebih rendah ketimbang Vietnam yg baru memulai pengembangan kopi pada 1970-an.

“Dulu produksi kopi Vietnam setahun 630.000, sekarang naik beberapa kali lipat 1,2 juta ton. Kita masih 600.000 ton dari dahulu sampai sekarang. Padahal kalian yg lebih dulu, kami yg ajari mereka,” ujar JK.

Sebagai informasi, meskipun memiliki luas lahan lahan hampir sama dengan Brasil yakni sebesar 1.246.810 hektar, produksi kopi Indonesia pada tahun 2015 cuma 685.000 ton, jauh di bawah Brasil sebesar 3 juta ton, dan Vietnam 1,32 juta ton. Meski memiliki luas lahan besar, produktifitas rendah per hektar membuat besaran produksi kopi Indonesia masih stagnan.

Ditemui di tempat yg sama, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman menjelaskan, plafon Rp 5,6 triliun tersebut dialokasikan masing-masing bagi intensifikasi sebesar Rp 4,4 triliun, dan sisanya Rp 1,5 triliun buat penanaman kembali (replanting).

“Jadi hasil rapatnya ada bantuan intensifikasi bagi kredit, bunganya cuma 9%, total plafon per tahun ini Rp 4,4 triliun itu bagi intensifikasi. Kemudian skim bagi replanting itu kurang lebih Rp 1,5 triliun, keduanya khusus kopi saja,” ujar Amran.

Secara khusus lanjut Amran, pihaknya menargetkan mampu melakukan intensifikasi pada lahan kopi seluas 100.000 hektar hingga akhir tahun lewat penyaluran KUR tersebut.

“Sekarang intensifikasi minimal 100.000 hektar di 2016 mulai dipercepat, Lampung 30% dari produksi nasional. Jadi Lampung ini terbesar. Karena persoalan selama ini persoalannya tanaman ini nggak terpelihara dengan baik,” paparnya.

(ang/ang)

Sumber: http://finance.detik.com
Berita terkini
Baca juga….

Menperin: Kopi Jangan Hanya Jadi Minuman

wood doors

Lampung -Industri pengolahan kopi nasional selama ini baru dapat menyerap sekitar 35% produksi kopi dan sisanya sebesar 65% masih diekspor. Sedangkan tingkat konsumsi kopi masyarakat Indonesia relatif masih rendah, rata-rata cuma 1,1 kg perkapita/tahun.

Untuk meningkatkan serapan kopi oleh industri, strategi yg perlu dikerjakan adalah memperluas ragam pemanfaatan atau diversifikasi produk kopi dari sebelumnya terbatas produk minuman menjadi industri lainnya.

“Diversifikasi produk kopi tak cuma sebagai minuman tapi dikembangkan dalam berbagai macam produk lainnya seperti kosmetik, herbal, farmasi, hingga essen makanan. Maka, mata rantainya makin panjang, beragam dan memberi nilai tambah yg mampu dinikmati petani sampai industri,” kata Menteri Perindustrian Saleh Husin usai mendampingi Wakil Presiden RI Jusuf Kalla pada Rapat Pengembangan Kopi Nasional di Lampung, Sabtu (13/2/2016).

Turut hadir ialah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Gubernur Lampung Ridho Ficardo, Gubernur Jambi Zumi Zola dan Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi.

Untuk mempercepat peningkatan ragam produk turunan kopi, pemerintah selalu menjamin iklim usaha yg kondusif untuk industri pengolahan kopi melalui kebijakan fiskal dan non-fiskal serta penerapan standar.

Di dunia, Indonesia adalah negara penghasil kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Vietnam dengan produksi pada tahun 2014 sebesar 685 ribu ton atau 8,9% dari produksi kopi dunia dengan komposisi 76,7% yaitu macam robusta dan sisanya arabika.

Sementara itu, tingkat konsumsi kopi masyarakat kalian jauh di bawah negara–negara pengimpor kopi seperti USA 4,3 kg, Jepang 3,4 kg, Austria 7,6 kg, Belgia 8,0 kg, Norwegia 10,6 kg dan Finlandia 11,4 kg perkapita/tahun.

“Ruang pengembangan kopi kami masih lebar. Nilai ekonominya juga selalu tumbuh namun jangan sampai kalian terlena karena negara kompetitor juga agresif melakukan pengembangan produk kopi,” tegas Menteri Saleh.

Kemenperin mencatat, ekspor produk kopi olahan tahun 2015 mencapai US$ 356,79 juta atau meningkat sekitar 8% dibanding tahun sebelumnya.

Ekspor produk kopi olahan didominasi produk kopi instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi yg tersebar ke negara tujuan ekspor seperti Filipina, Malaysia, Thailand, Singapura, RRC, dan Uni Emirat Arab.

Wapres Jusuf Kalla mengatakan, peningkatan produksi kopi berdampak segera pada kesejahteraan petani. Menurutnya, kopi bersama cokelat yaitu beberapa komoditas yg tak terpengaruh krisis.

“Tiap kenaikan harga kopi maka berarti pemerataan pendapatan karena 96% kebun kopi adalah perkebunan rakyat. Berbeda dengan sawit yg pengusahaannya didominasi perusahaan besar,” ujarnya.

Wapres menambahkan, kebijakan pemerintah bagi seluruh komoditi pertanian berbasis pangan termasuk kopi adalah mendongkrak produksi.

Luas areal kopi nasional mencapai 1,23 juta hektare dengan produktivitas 721 kg/ha. Komoditas ini menciptakan lapangan kerja buat 1,79 juta kepala keluarga.

(dna/ang)

Sumber: http://finance.detik.com
Berita terkini
Baca juga….

JK: Vietnam Salip RI Di Urutan Produsen Kopi Dunia

wood doors

Bandar Lampung -Sempat jadi produsen kopi terbesar kedua setelah Brasil, posisi Indonesia kini melorot ke posisi 3 pasca disalip Vietnam. Padahal sebelumnya, Vietnam sendiri belajar mengembangkan tanaman kopi dari Indonesia pada tahun 1970-an.

Keprihatinan tersebut diungkapkan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) ketika pertemuan Pengembangan Kopi Berkelanjutan, di Rumah Jabatan Gubernur Lampung, Bandar Lampung, Sabtu (13/2/2016).

“Pertumbuhan konsumsi kopi dunia setiap tahun naik 15%, di pihak yang lain produksi kopi kalian cuma 1%, bahkan dalam 5 tahun terakhir malah stagnan. Dulu Vietnam 630.000 ton, sekarang Vietnam telah 1,2 juta ton atau beberapa kali lipat produksi kita,” jelas JK.

Menurut JK, produksi kopi tidak banyak berubah sejak dikembangkan pada zaman kolonial. Di sisi yang lain produktifitas kopi per hektar per tahun masih 600-700 kg. Jauh di bawah produktifitas Vietnam sebesar 1,5 ton per hektar, dan Brasil yg di atas 2 ton per hektar per tahun.

“Dulu produksi kopi Vietnam setahun 630.000, sekarang naik beberapa kali lipat 1,2 juta ton. Kita masih 600.000 ton dari lalu sampai sekarang. Padahal kalian yg lebih dulu, kalian yg ajari mereka,” kata JK.

Sebagai informasi, meskipun memiliki luas lahan lahan hampir sama dengan Brasil yakni sebesar 1.246.810 hektar, produksi kopi Indonesia pada tahun 2015 cuma 685.000 ton, jauh di bawah Brazil sebesar 3 juta ton, dan Vietnam 1,32 juta ton. Meski memiliki luas lahan besar, produktivitas rendah per hektar membuat besaran produksi kopi Indonesia masih stagnan.

Hadir dalam pertemuan tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Gubernur Lampung Ridho Fichardo, dan sejumlah pengusaha dan eksportir kopi Lampung.

(ang/ang)

Sumber: http://finance.detik.com
Berita terkini
Baca juga….